Perkembangan Flora dan Fauna di Indonesia pada Masa Pra Aksara

11.18 0 Comments

Image result for flora dan fauna purba
Perkembangan Flora dan Fauna di Indonesia pada Masa Pra Aksara | Social Network
Ini merupakan tugas pertama pelajaran Sejarah Peminatan dan kami dari kelas X IPS 2
Menurut kelompok 1 dengan anggota :
1.    Aida Nur Azqiya                (02)
2.    Angga Pratama Nuur M     (06)
3.    Deki Nur Fitrian                 (09)
4.    Dian Novitasari                  (11)
5.    Fauzia Hayuning Trisna     (13)
6.    Lathifah Puji R                   (15)
7.    Wida Wulandari Nur R      (31)
8.    Zhulfani Junnaika W          (32)

Keadaan Flora dan Fauna Pada Masa Praaksara di Indonesia

Zaman praaksara dimulai pada saat manusia pertama muncul di Indonesia. Manusia purba tertua di Indonesia adalah Meganthropus Palaeojavanicus yang pernah hidup 2.000.000 tahun yang lalu. Manusia purba ini pernah hidup 2 juta tahun yang lalu. Fosil 2 juta tahun itu ditemukan di beberapa daerah di Indonesia seperti Jawa, Sumatera Utara, Aceh, Flores, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan. 2 juta tahun lalu dimulai manusia praaksara di Indonesia 2 juta tahun yang lalu manusia pertama di Indonesia pernah hidup bersama dengan hewan liar dan tanaman purba.

Jika melihat tabel umur geologi, 2 juta tahun yang lalu masuk ke dalam masa Pleistocene – Pliocene. Fosil-fosil hewan yang ditemukan pada umumnya merupakan hasil evolusi dari hewan-hewan masa sebelumnya. Kondisi hewan pada zaman. Praaksara pada dasarnya tidak banyak berbeda dengan kondisi saat ini. Hewan-hewan masa Praaksara antara lain kera, gajah, kerbau liar, badak, banteng, kancil, babi rusa, monyet berekor, hewan pemakan serangga, trenggiling, dan hewan pengerat. Sebagian dari hewan-hewan tersebut ada yang menjadi hewan buruan manusia Praaksara.

Sebagian hewan punah karena ditangkap dan dimakan oleh manusia. Sebagian hewan lainnya masih hidup karena kemampuannya membebaskan dari berbagai gangguan serta dapat menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungannya. Hewan pada masa praaksara di Indonesia ada banyak sekali, diantaranya :
1.    Mammoth ( Mammuthus Primigenius)
2.    Smilodon/Sabretooth
3.    The Moa.
4.    Arthropluera Armata
5.    dan lain lain (banyak sekali)

Para arkeolog berhasil menemukan sejumlah fosil jenis tumbuhan praaksara, antara lain pohon jeruk, pohon salam, dan pohon rasamala. Selain itu, ada tumbuh-tumbuhan yang boleh dimakan seperti jenis umbi-umbian, buah-buahan, dan sayuran. Tumbuh-tumbuhan tersebut tumbuh liar di hutan. Ada banyak sekali jenis tanaman purba yang berkembang di Indonesia, antara lain :
1.    Sikas Naga (Cycas Affinity Rumphii)
2.    Encepalartos (Ence)
3.    Pachypodium Nepenthes spp

Flora dan fauna di dunia ini akan terus mengalami pekembangan seiring berjalannya waktu dan aktivitas manusia mempengaruhi perkembangan flora dan fauna di Indonesia. Sebagai manusia yang mengenal peradaban, kita harus menjaga kelestarian flora dan fauna yang ada agar kelangsungan hidup mereka tetap terjaga.

Menurut kelompok 2 dengan anggota :
1.    Almas Nabiela Tiara Maharani     (04)
2.    Anisah Ulfah Fauzah                    (07)
3.    Firda Novalia Shanastri                (14)
4.    Hana Farida Salma                       (15)
5.    Maulida Rahma Fitriani               (20)
6.    Safira Alaidha                              (24)
7.    Shinta Noor Aini Putri                 (29)
8.    Tiur Maulina Putri Sitompul        (30)

Perkembangan Flora dan Fauna di Indonesia pada Masa Pra Aksara

Para arkeolog berhasil menemukan sejumlah fosil jenis tumbuhan Praaksara, antara lain pohon jeruk, pohon salam, dan pohon rasamala. Selain itu, ada tumbuh-tumbuhan yang boleh dimakan seperti jenis umbi-umbian, buah-buahan, dan sayuran. Tumbuh-tumbuhan tersebut tumbuh liar di hutan.

Fosil-fosil hewan yang ditemukan pada umumnya merupakan hasil evolusi dari hewan-hewan masa sebelumnya. Kondisi hewan pada zaman Praaksara pada dasarnya tidak banyak berbeda dengan kondisi saat ini. Hewan-hewan masa Praaksara antara lain kera, gajah, kerbau liar, badak, banteng, kancil, babi rusa, monyet berekor, hewan pemakan serangga, trenggiling, dan hewan pengerat. Sebagian dari hewan-hewan tersebut ada yang menjadi hewan buruan manusia Praaksara. Sebagian hewan punah karena ditangkap dan dimakan oleh manusia. Sebagian hewan lainnya masih hidup karena kemampuannya membebaskan dari berbagai gangguan serta dapat menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungannya.

Banyak sekali perbedaan flora dan fauna pada zaman praaksara di Indonesia. Info-info yang mengatakan bahwa “tidak ada perbedaan flora dan fauna pada zaman pra aksara” itu adalah jawaban yang sangat “SALAH”. Ada banyak sekali perbedaan fisik pada zaman prasejarah ini.

Praaksara di Indonesia berakhir pada awal abad ke-5 Masehi (400 Masehi) artinya, sebelum abad ke-5 Masehi. Itu adalah “ZAMAN PRAAKSARA”. Tidak ada batasan yang jelas kapan zaman praaksara dimulai. Kita anggap saja bahwa zaman praaksara dimulai pada saat manusia pertama muncul di Indonesia. Manusia purba tertua di Indonesia adalah Meganthropus Palaeojavanicus yang pernah hidup 2.000.000 tahun yang lalu. Manusia purba ini pernah hidup 2 juta tahun yang lalu. Fosil 2 juta tahun itu ditemukan di beberapa daerah di Indonesia seperti Jawa, Sumatera Utara, Aceh, Flores, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan.

2 juta tahun lalu dimulai manusia praaksara di Indonesia 2 juta tahun yang lalu manusia pertama di Indonesia pernah hidup bersama dengan hewan liar dan tanaman purba. Jika kita melihat tabel umur geology, 2 juta tahun yang lalu masuk kedalam masa Pleistocene – Pliocene. Nah bagaimana keadaan binatang pada masa prakaksara (pleistocene) di Indonesia? Fauna pada masa praaksara di Indonesia, ada banyak sekali binatang praaksara di Indonesia, diantaranya adalah : Mammoth ( Mammuthus Primigenius) Smilodon/Sabretooth The Moa. Arthropluera Armata dan lain lain (banyak sekali). Flora pada masa praaksara di Indonesia. Sedangkan dari tumbuhan, hanya beberapa saja yang saya sebutkan, karena ada banyak sekali jenis tanaman purba yang berkembang di Indonesia. Antara lain : SIKAS NAGA (Cycas Affinity Rumphii) Encepalartos (Ence) Pachypodium Nepenthes spp dll

Menurut kelompok 3 dengan anggota :
1.    Anas Farid Athaya                (05)
2.    Dennis Ilham Fauzi               (10)
3.    Endhita Dhestiana Indiarti    (12)
4.    Intan Fatma Sari                    (16)
5.    Lathiifatul Layl                     (18)
6.    Nur Pujiastuti                        (22)
7.    Salsa Hayu Ocyana               (25)
8.    Sari Dwi Rachmawati           (26)

Pengertian Flora dan Fauna

Flora dan fauna adalah tanaman dan satwa liar, yang asli liar di wilayah geografis yang sering disebut sebagai wilayah flora dan fauna. Kedua-duanya adalah istilah kolektif, merujuk pada kelompok tanaman atau satwa liar tertentu ke suatu daerah atau suatu periode waktu. Misalnya, flora dan fauna yang hangat dapat terdiri dari daerah tropis ke sedang hangat-tumbuhan dan jenis burung eksotis.

Definisi, flora berasal dari bahasa Latin yaitu Flora, dewi yang bunga. Flora dapat merujuk kepada sekelompok tanaman, sebuah penyelidikan dari kelompok tanaman, serta bakteri. Flora adalah akar kata bunga, yang berarti menyangkut bunga. Fauna dapat merujuk pada kehidupan hewan atau binatang klasifikasi dari daerah tertentu, jangka waktu, atau lingkungan. Fauna juga berasal dari bahasa Latin. Dalam Mitologi Romawi Fauna adalah kakak dari Faunus, roh yang baik dari hutan dan dataran.

Flora dan fauna di suatu wilayah yang biasanya dijelaskan dalam istilah biologi untuk menyertakan genus dan spesies tanaman dan hewan hidup, pilihan mereka tumbuh berkembang biak atau kebiasaan, dan sambungan ke satu sama lain di lingkungan juga. Selain kelompok geografis, lingkungan juga akan membantu lebih lanjut klasifikasi flora dan fauna. Misalnya, air flora dan fauna di kawasan merujuk kepada tanaman dan hewan yang hidup di dalam air atau sekitar satu wilayah geografis.

Biologists and environmentalists memepelajari flora dan fauna untuk sejumlah alasan. Pelestarian dan konservasi serta mendapatkan pemahaman baru biologi hanyalah beberapa alasan mengapa flora dan fauna yang sangat penting bagi peneliti. Beberapa organisasi, termasuk Fauna dan Flora International (FFI), bekerja sama untuk menggunakan mereka untuk penelitian dan temuan lebih lanjut tentang kebijakan konservasi dan pelestarian serta keanekaragaman hayati.

Spesies Asli dan Endemik. Sebelumnya kita perhatikan dulu pengertian flora dan fauna asli serta perbedaannya dengan flora dan fauna endemik. Spesies asli (Native Species) adalah spesies-spesies yang menjadi penduduk suatu wilayah atau ekosistem secara alami tanpa campur tangan manusia. Sedangkan spesies endemik merupakan gejala alami sebuah biota untuk menjadi unik pada suatu wilayah geografi tertentu. Sebuah spesies bisa disebut endemik jika spesies tersebut merupakan spesies asli yang hanya bisa ditemukan di sebuah tempat tertentu dan tidak ditemukan di wilayah lain. Wilayah di sini dapat berupa pulau, negara, atau zona tertentu.

Macam-macam fauna di Indonesia :
•    Burung Elang Jawa (Nisaetus bartelsi)
•    Burung Trulek Jawa (Vanellus macropterus); tidak pernah ditemukan lagi.
•    Kijang (Muntiacus muntjak)
•    Babi Hutan (Sus scrofa)
•    Trenggiling (Manis javanica)
•    Luwak (Paradoxurus hermaphroditus)
•    Alap-alap Capung (Microhierax fringillarius)
•    Raja Udang Meninting (Alcedo meninting)
•    Burung Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster)
•    Ayam Hutan Merah (Gallus gallus)
•    Ayam Hutan Hijau (Gallus varius)
•    Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides)
Beberapa flora (tumbuhan) yang merupakan spesies asli gunung Ungaran diantaranya adalah:
•    Jamuju (Dacrycarpus imbricatus)
•    Sarangan (Castanopsis argentea)
•    Waru Gunung (Hibiscus macrophyllus)
•    Kantil (Michelia alba)
•    Rengas (Gluta renghas)
•    Cemplonan (Drymaria cordata)
Upaya-upaya Pelestarian Flora dan Fauna Beberapa jenis flora dan fauna kini semakin sulit ditemui karena banyak diburu untuk tujuan tertentu (dimakan, untuk obat, perhiasan) maupun tempat hidupnya dirusak manusia misalnya unntuk dijadikan lahan pertanian, perumahan, industri, dan sebagainya. Flora dan fauna yang jumlahnya sangat terbatas tersebut dinyatakan sebagai flora dan fauna langka. Untuk mencegah semakin punahnya flora dan fauna ini maka dilakukan upaya-upaya sebagai berikut:
 
a.     Ditetapkan tempat perlindungan bagi flora dan fauna agar perkembangbiakannya tidak terganggu. Tempat-tempat perlindungan ini berupa cagar alam bagi flora dan suaka margasatwa bagi fauna.
b.     Membangun beberapa pusat rehabilitasi dan tempat-tempat penangkaran bagi hewan-hewan tertentu, seperti:
• Pusat rehabilitasi orang utan di Bohorok dan Tanjung Putting di Sumatera.
• Daerah hutan Wanariset Samboja di Kutai, Kalimantan Timur.
• Pusat rehabilitasi babi rusa dan anoa di Sulawesi.
c.      Pembangunan yang berwawasan lingkungan, berarti pembangunan harus memperhatikan keseimbangan yang sehat antara manusia dengan lingkungannya.
d.     Menetapkan beberapa jenis binatang yang perlu dilindungi seperti: Soa-soa (biawak), Komodo, Landak Semut Irian, Kanguru Pohon, Bekantan, Orang Utan (Mawas), Kelinci liar, bajing terbang, bajing tanah, Siamang, macan Kumbang, beruang madu, macan dahan kuwuk, Pesut, ikan Duyung, gajah, tapir, badak, anoa, menjangan, banteng, kambing hutan, Sarudung, owa, Sing Puar, Peusing.
e.      Melakukan usaha pelestarian hutan, antara lain:
• mencegah pencurian kayu dan penebangan hutan secara liar.
• perbaikan kondisi lingkungan hutan.
• menanam kembali di tempat tumbuhan yang pohonnya di tebang.
• sistem tebang pilih.
f.       Melakukan usaha pelestarian hewan, antara lain:
• melindungi hewan dari perburuan dan pembunuhan liar.
• mengembalikan hewan piaraan ke kawasan habitatnya.
• mengawasi pengeluaran hewan ke luar negeri.
    g.     Melakukan usaha pelestarian biota perairan, antara lain:
• mencegah perusakan wilayah perairan.
• melarang cara-cara penangkapan yang dapat mematikan ikan dan biota lainnya, misalnya dengan bahan peledak.
• melindungi anak ikan dari gangguan dan penangkapan

Para arkeolog berhasil menemukan sejumlah fosil jenis tumbuhan Praaksara, antara lain pohon jeruk, pohon salam, dan pohon rasamala. Selain itu, ada tumbuh-tumbuhan yang boleh dimakan seperti jenis umbi-umbian, buah-buahan, dan sayuran. Tumbuh-tumbuhan tersebut tumbuh liar di hutan.
Fosil-fosil hewan yang ditemukan pada umumnya merupakan hasil evolusi dari hewan-hewan masa sebelumnya. Kondisi hewan pada zaman. Praaksara pada dasarnya tidak banyak berbeda dengan kondisi saat ini. Hewan-hewan masa Praaksara antara lain kera, gajah, kerbau liar, badak, banteng, kancil, babi rusa, monyet berekor, hewan pemakan serangga, trenggiling, dan hewan pengerat. Sebagian dari hewan-hewan tersebut ada yang menjadi hewan buruan manusia Praaksara. Sebagian hewan punah karena ditangkap dan dimakan oleh manusia. Sebagian hewan lainnya masih hidup karena kemampuannya membebaskan dari berbagai gangguan serta dapat menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungannya.
sebelum membahas ini, ada baiknya kalian mengetahui apa itu pra-aksara. Prakasara disebut juga dengan masa prasejarah, jika dalam bahasa inggris menjadi “prehistory” yang artinya adalah “sebelum zaman sejarah”. Pada zaman prakaksara, belum ditemukan catatan apapun tentang zaman ini. Manusia jenis apa, hewan jenis apa, tanaman yang seperti apa, semuanya dapat diketahui dengan bantuan fosil. Bagaimana Keadaan Flora dan Fauna Pada Masa Praaksara di Indonesia Banyak Sekali Perbedaan Flora dan Fauna Pada Zaman Praaksara di Indonesia Kalian jangan percaya info-info yang mengatakan bahwa “tidak ada perbedaan flora dan fauna pada zaman pra aksara” menurut saya, itu adalah jawaban yang sangat amat “SALAH”. Ada banyak sekali perbedaan fisik pada zaman prasejarah ini. Baiklah, mari kita bahas lengkap dan sekomplit-komplitnya. Saya harap tulisan ini dapat membuka pikiran kalian sebesar-besarnay dan seluas-luasnya. Praaksara di Indonesia berakhir pada awal abad ke-5 Masehi (400 Masehi) artinya, sebelum abad ke-5 Masehi. itu adalah “ZAMAN PRAAKSARA”. Sudah paham? tidak ada batasan yang jelas kapan zaman praaksara dimulai. Kita anggap saja bahwa zaman praaksara dimulai pada saat manusia pertama muncul di Indonesia. Manusia purba tertua di Indonesia adalah Meganthropus Palaeojavanicus yang pernah hidup 2.000.000 tahun yang lalu. Manusia purba ini pernah hidup 2 juta tahun yang lalu, dan banyak yang bilang tidak ada perubahan fauna dan flora di Indonesia? Terlalu sekali. Fosil 2 juta tahun itu ditemukan dibeberapa daerah di Indonesia seperti Jawa, Sumatera Utara, Aceh, Flores, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan. 2 Juta Tahun Lalu Dimulai Manusia Praaksara di Indonesia 2 juta tahun yang lalu manusia pertama di Indonesia pernah hidup bersama dengan hewan liar dan tanaman purba. Jika kita melihat tabel umur geology, 2 juta tahun yang lalu masuk kedalam masa Pleistocene – Pliocene. Nah bagaimana keadaan binatang pada masa prakaksara (pleistocene) di Indonesia? simak pembahasan sebenarnya dibawah ini. Bagaimana Keadaan Flora dan Fauna Pada Masa Praaksara di Indonesia 2 Fauna Pada Masa Praaksara di Indonesia Ada banyak sekali binatang praaksara di Indonesia, diantaranya adalah : Mammoth ( Mammuthus Primigenius) Smilodon/Sabretooth The Moa. Arthropluera Armata dan lain lain (banyak sekali). Flora Pada Masa Praaksara di Indonesia Sedangkan dari tumbuhan, hanya beberapa saja yang saya sebutkan, karena ada banyak sekali jenis tanaman purba yang berkembang di Indonesia. Antara lain : SIKAS NAGA (Cycas Affinity Rumphii) Encepalartos (Ence) Pachypodium Nepenthes spp dll

Menurut kelompok 4 dengan anggota :
1.    Adhila Inyustisia              (01)
2.    Akbar Bagus Nugroho     (03)
3.    Azriel Erwin Bakhtiar      (08)
4.    Istikomah                          (17)
5.    Muhammad Rizal R.        (21)
6.    Ragil Listyaningrum         (23)
7.    Selina Aulia Azahra         (27)
8.    Septiawan Rizki A.           (28)

Zaman Praaksara di Indonesia berakhir pada awal abad ke-5 Masehi (400 Masehi) artinya, sebelum abad ke-5 Masehi. itu adalah “ZAMAN PRAAKSARA”, tidak ada batasan yang jelas kapan zaman praaksara dimulai. Kita anggap saja bahwa zaman praaksara dimulai pada saat manusia pertama muncul di Indonesia. Manusia purba tertua di Indonesia adalah Meganthropus Palaeojavanicus yang pernah hidup 2.000.000 tahun yang lalu. Manusia purba ini pernah hidup 2 juta tahun yang lalu, dan banyak yang bilang tidak ada perubahan fauna dan flora di Indonesia. Fosil 2 juta tahun itu ditemukan dibeberapa daerah di Indonesia seperti Jawa, Sumatera Utara, Aceh, Flores, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan. 2 Juta Tahun Lalu Dimulai Manusia Praaksara di Indonesia 2 juta tahun yang lalu manusia pertama di Indonesia pernah hidup bersama dengan hewan liar dan tanaman purba. Jika kita melihat tabel umur geology, 2 juta tahun yang lalu masuk kedalam masa Pleistocene – pliocene. Fauna Pada Masa Praaksara di Indonesia ada banyak sekali binatang praaksara di Indonesia, hal ini disebabkan letak kepulauan Indonesia yang sangat strategis yang terletak diantara dua paparan yaitu : Paparan Sahul di sebelah timur dan Paparan Sunda di sebelah barat, hal ini tentu berimplikasi pada keanekaragaman fauna di Indonesia.

Bagaimanakah keadaan flora dan fauna pada masa Praaksara di Indonesia? Para arkeolog berhasil menemukan sejumlah fosil jenis tumbuhan Praaksara, antara lain pohon jeruk, pohon salam, dan pohon rasamala. Selain itu, SIKAS NAGA (Cycas Affinity Rumphii), Encepalartos (Ence), Pachypodium, Nepenthes spp, ada juga tumbuh-tumbuhan yang boleh dimakan seperti jenis umbi-umbian, buah-buahan, dan sayuran. Tumbuh-tumbuhan tersebut tumbuh liar di hutan.

Sedangkan keadaan fauna di Indonesia menurut Alfred Wallace membagi wilayah fauna di Indonesia menjadi 3 yaitu : Zona Asiatis, Peralihan, dan Australis. Fosil-fosil hewan yang ditemukan pada umumnya merupakan hasil evolusi dari hewan-hewan masa sebelumnya. Kondisi hewan pada zaman Praaksara pada dasarnya tidak banyak berbeda dengan kondisi saat ini. Hewan-hewan masa Praaksara antara lain Mammoth ( Mammuthus Primigenius), Smilodon/Sabretooth, The Moa, Arthropluera Armata, selain itu kera, gajah, kerbau liar, badak, banteng, kancil, babi rusa, monyet berekor, hewan pemakan serangga, trenggiling, dan hewan pengerat. Sebagian dari hewan-hewan tersebut ada yang menjadi hewan buruan manusia Praaksara. Sebagian hewan punah karena ditangkap dan dimakan oleh manusia. Sebagian hewan lainnya masih hidup karena kemampuannya membebaskan dari berbagai gangguan serta dapat menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungannya.

Keanekaragaman flora dan fauna Indonesia tentunya perlu kita syukuri dengan menjaga dan melestarikannya. Jika tidak, flora dan fauna tersebut akan terancam punah. Bangsa Indonesia tentu akan mengalami banyak kerugian karena flora dan fauna tersebut memiliki fungsi dan peran masing-masing di alam. Di samping itu, manfaat bagi manusia juga akan hilang jika flora dan fauna tersebut punah. Besarnya keanekaragaman hayati di Indonesia berkaitan erat dengan kondisi iklim dan kondisi fisik wilayah.

Suhu dan curah hujan yang besar memungkinkan tumbuhnya beragam jenis tumbuhan.? Tumbuhan memerlukan air dan suhu yang sesuai. Makin banyak air tersedia makin banyak tumbuhan yang dapat tumbuh dan karena itu makin banyak hewan yang dapat hidup di daerah tersebut.

Bukti dari pernyataan tersebut dapat dibandingkan antara daerah dengan curah hujan yang tinggi seperti Indonesia dan daerah gurun yang curah hujannya sangat kecil. Keanekaragaman flora dan fauna Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan dengan keanekaragaman flora dan fauna daerah gurun.

Unknown

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: