Kerajaan Mataram Kuno



Kerajaan Mataram Kuno

 "XI Social 2"


Kelompok 3 (XI IPS 2)

“Kehidupan Sosial Budaya Pada Kerajaan Mataram Kuno”





Nama Anggota :



  1. Akbar Bagus Nugroho             (03)
  2. Deki Nur Fitrian                       (09)
  3. Dian Novitasari                        (11)
  4. Endhita Destiana                      (12)
  5. Fauzia Hayuning                      (13)
  6. Firda Novalia                           (14)
  7. Ragil Listyaningrum                (23)
  8. Wida Wulandari                       (31)








Kehidupan sosial Kerajaan Mataram tidak diketahui secara pasti. Namun, melalui bukti-bukti peninggalan berupa candi-candi, para ahli menafsirkan bahwa kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Syailendra sudah teratur. Hal ini dilihat melalui cara pembuatan candi yang menggunakan tenaga rakyat secara bergotong-royong. Di samping itu, pembuatan candi ini menunjukkan betapa rakyat taat dan mengkultuskan rajanya. Dengan adanya dua agama yang berjalan, sikap toleransi antar pemeluk agama di masyarakat sangat baik.

Kerajaan Mataram Kuno meskipun dalam praktik keagamaannya terdiri atas agama Hindu dan agama Buddha, masyarakatnya tetap hdup rukun dan saling bertoleransi. Sikap itu dibuktikan ketika mereka bergotong royong dalam membangun Candi Borobudur. Masyarakat Hindu yang sebenarnya tidak ada kepentingan dalam membangun Candi Borodur

Keteraturan kehidupan sosial di Kerajaan Mataram Kuno juga dibuktikan adanya kepatuhan hukum pada semua pihak. Peraturan hukum yang dibuat oleh penduduk desa ternyata juga di hormati dan dijalankan oleh para pegawai istana. Semua itu bisa berlangsung karena adanya hubungan erat antara rakyat dan kalangan istana.

Struktur sosial masyarakat Mataram Kuno tidak begitu ketat, sebab seorang Brahmana dapat menjadi seorang pejabat seperti seorang ksatria, ataupun sebaliknya seorang Ksatria bisa saja menjadi seorang pertapa. Dalam masyarakat Jawa, terkenal dengan kepercayaan bahwa dunia manusia sangat dipengaruhi oleh alam semesta (sistem kosmologi). Dengan demikian, segala yang terjadi di alam semesta ini akan berpengaruh pada kehidupan manusia, begitu pula sebaliknya. 




Oleh karena itu, untuk keserasian alam semesta dan kehidupan manusia maka harus dijalin hubungan yang harmonis antara alam semesta dan manusia, begitu pula antara sesama manusia. Sistem kosmologi juga menjadikan raja sebagai penguasa tertinggi dan penjelmaan kekuatan dewa di dunia. Seluruh kekayaan yang ada di tanah kerajaan adalah milik raja, dan rakyat wajib membayar upeti dan pajak pada raja. Sebaliknya raja harus memerintah secara arif dan bijaksana.



Kerajaan Mataram diperintah oleh dua dinasti, yakni Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Dinasti Sanjaya beragama Hindu dengan pusat kekuasaannya di utara dengan hasil budayanya berupa candi-candi seperti Gedong Songo dan Dieng. Dinasti Syailendra beragama Bundha dengan pusat kekuasaannya di daerah selatan, dan hasil budayanya dengan mendirikan candi-candiseperticandi Borobudur, Mendut, dan Pawon.

Semula terjadi perebutan kekuasan namun kemudian terjalin persatuan ketika terjadi perkawinan antara Pikatan (Sanjaya) yang beragama Hindu dengan Pramodhawardhani (Syailendra) yang beragama Buddha. Sejak itu agama Hindu dan Buddha hidup berdampingn secara damai.



Dalam bidang kebudayaan, Mataram Kuno banyak menghasilkan karya yang berupa candi. Pada masa pemerintahan Raja Sanjaya, telah dibangun beberapa candi antara lain: Candi Arjuna, Candi Bima dan Candi Nakula. Pada masa Rakai Pikatan, dibangun Candi Prambanan. Candi-candi lain yang dibangun pada masa Mataram Kuno antara lain Candi Borobudur, Candi Gedongsongo, Candi Sambisari, dan Candi Ratu Baka.

  1. http://www.zonasiswa.com/2014/05/sejarah-kerajaan-mataram-kuno.html
  2. http://sejaradanbudaya.blogspot.co.id/2014/12/sejarah-kerajaan-mataram-kuno.html
  3. http://www.materisma.com/2014/02/sejarah-kerajaan-mataram-kuno.html
 -------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Anggota Kelompok :


  1. Anas Farid Athaya                   (05)
  2. Hana Farida Salma                   (15)
  3. Maulida Rahma Fitriani           (21)
  4. Nur Pujiastuti                           (22)
  5. Safira Alaidha                          (24)
  6. Sari Dwi Rachmawati              (26)
  7. Selina Aulia Azahra                 (27)
  8. Tiur Maulina Putri S.                (30)

SISTEM PEREKONOMIAN KERAJAAN MATARAM KUNO

          Dinasti Sanjaya

Perekonomian kerajaan Mataram Kuno saat itu bertumpu pada sektor pertanian karena letaknya yang cukup disebut sebagai pedalaman dan memiliki tanah yang subur. Berikutnya, Mataram mulai mengembangkan kehidupan pelayaran, hal ini terjadi pada masa pemerintahan Balitung yang memanfaatkan Sungai Bengawan Solo sebagai lalu lintas perdagangan menuju pantai utara Jawa Timur.



2    Dinasti Syailendra

Mata pencaharian pokok masyarakat adalah petani, pedagang, dan pengrajin. Dinasti Syailendra telah menetapkan pajak bagi masyarakat Mataram. Hal ini terbukti dari prasasti Karang tengah yang menyebutkan bahwa Rakryan Patatpa Pu Palar mendirikan bangunan suci dan memberikan tanah perdikan sebagai simbol masyarakat yang patuh membayar pajak.



          Kehidupan ekonomi Kerajaan Mataram Kuno bertumpu pada sektor pertanian. Wilayah Mataram memiliki kondisi tanah yang subur sehingga cocok untuk pertanian. Pengembangan hasil pertanian dilakukan sejak masa pemerintahan Rakai Kayuwangi. Selanjutnya pada masa Rakai Dyah Balitung, sektor perdagangan mulai berkembang. Aktivitas perhubungan dan perdagangan laut dikembangkan melalui Sungai Bengawan Solo. Penduduk di sekitar sungai diperintahkan untuk menjamin kelancaran lalu lintas perdagangan melalui aliran sungai tersebut.

Lancarnya lalu lintas mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat Mataram Kuno.

      Selain di sekitar Sungai Bengawan Solo, penduduk Mataram melakukan perdagangan di pasar-pasar yang terletak di pusat kota dan desa. Kegiatan ini tidak dilakukan setiap hari, tetapi bergulir menurut penanggalan kalender Jawa Kuno.

      Selain pertanian dan perdagangan , industri rumah tangga berkembang di Kerajaan Mataram Kuno. Hasil industri ini antara lain keranjang anyaman, perkakas, pakaian, gula kelapa, arang, dan kapur sirih. Hasil produksi ini dijual ke pasar.

      Dari kegiatan ekonomi pertanian, perdagangan, dan industri tersebut Kerajaan Mataram dapat menarik pajak.



Kesimpulan :

Kehidupan ekonomi masyarakat Mataram Kuno pada masa Dinasti Sanjaya bertumpu pada sektor pertanian dan telah memanfaatkan Sungai Bengawan Solo di sektor pelayaran.

Kehidupan ekonomi masyarakat Mataram Kuno pada masa Dinasti Syailendra bertumpu pada bidang pertanian, perdagangan, dan kerajinan. Pada masa Dinasti Syailendra pajak sudah dilaksanakan dengan baik.



SUMBER :

  1. http://lailameika13.blogspot.co.id/2015/03/kehidupan-politik-sosial-ekonomi-dan_22.html?m=1
  2. http://pujel.blogspot.co.id/2014/03/kehidupan-kerajaan-mataram-kuno.html?m=1
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Anggota Kelompok 1 XI IPS 2 :


  1. Adhila Inyustisia                                 (01)
  2. Almas Nabiela M                                (04)
  3. Dennis Ilham Fauzi                             (10)
  4. Intan Fatma Sari                                  (16)
  5. Salsa Hayu Ocyana                             (25)
  6. Septiawan Rizki A                               (28)
  7. Shinta Noor Aini P                              (29)
  8. Zhulfani Junnaika W                           (32)





BENTUK DAN SISTEM PEMERINTAHAN KERAJAAN MATARAM KUNO





Kerajaan Mataram merupakan kerajaan yang sistem pemerintahannya adalah kerajaan. Sistem ini digunakan sejak berdirinya mataram kuno di abad ke-8 hingga runtuhnya di abab ke-11  dari sistem ini kerajaan mataram di kuasai oleh beberapa penguasa. Kerajaan mataram  ini merupakan sebuah kerajaan yang bercorak hindu budha sehingga dalam sistemnya dikenal dengan dynasty. Dari catatan prasati yang ditinggalkannya kerajaan ini dibagi menjadi dua dinasti yaitu Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Kerajaan ini merupakan kerajaan yang cukup besar, dibuktikan dengan wilayah yang dipimpin oleh Raja yang merupakan pemimpin tertinggi Kerajaan Medang. Sanjaya sebagai raja pertama memakai gelar Ratu. Pada zaman itu istilah Ratu belum identik dengan kaum perempuan. Gelar ini setara dengan Datu yang berarti "pemimpin". Selain gelar Datu, juga terdapat gelar Sri Maharaja (setelah Wangsa Syalendra memimpin mataram). Kedua gelar tersebut merupakan Gelar asli Indonesia.

  
Selama 178 tahun berdiri, kerajaan mataram kuno dipimpin oleh raja-raja yang sebagian terkenal dengan keberanian, kebijaksanaan dan sikap toleransi terhadap agama lain.
Adapun raja-raja yang sempat memerintah kerajaan Mataram Kuno antara lain:

a.       Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya                   (732-760 M)

b.      Sri Maharaja Rakai Panangkaran                      (760-780 M)

c.       Sri Maharaja Rakai Panunggalan                      (780-800 M)

d.      Sri Maharaja Rakai Warak                                 (800-820 M)

e.       Sri Maharaja Rakai Garung                               (820-840 M)

f.       Sri Maharaja Rakai Pikatan                               (840-863 M)

g.       Sri Maharaja Rakai Kayuwangi                        (863-882 M)

h.      Sri Maharaja Rakai Watuhumalang                   (882-898 M)

i.        Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung   (898-910 M)



Kerajaan mataram kuno pertama kali dipimpin oleh Raja Sanjaya yang terkenal sebagai seorang raja yang besar, gagah berani, dan bijaksana serta sangat toleran terhadap agama lain. Ia adalah penganut Hindu Syiwa yang taat.

Setelah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya meninggal dunia, beliau kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Sankhara yang bergelar Rakai Panangkaran Dyah Sonkhara Sri Sanggramadhanjaya. Ketika Rakai Panangkaran dari Wangsa Sailendra berkuasa, gelar Ratu dihapusnya dan diganti dengan gelar Sri Maharaja. Kasus yang sama terjadi pada Kerajaan Sriwijaya di mana raja-rajanya semula bergelar Dapunta Hyang, dan setelah dikuasai Wangsa Sailendra juga berubah menjadi Sri Maharaja. Raja Panangkaran lebih progresif dan bijaksana daripada Sanjaya sehingga Mataram Kuno lebih cepat berkembang. Daerah-daerah sekitar Mataram Kuno segera ditaklukkan, seperti kerajaan Galuh di Jawa Barat dan Kerajaan Melayu di Semenanjung Malaya. Ketika Rakai Panunggalan berkuasa, kerajaan Mataram Kuno mulai mengadakan pembangunan beberapa candi megah seperti candi Kalasan, candi Sewu, candi Sari, candi Pawon, candi Mendut, dan Candi Borobudur.

Kemudian setelah Rakai Panunggalan meninggal, beliau digantikan oleh Rakai Warak. Pada zaman pemerintahan Rakai Warak, ia lebih mengutamakan agama Buddha dan Hindu sehingga pada saat itu banyak masyarakat yang mengenal agama tersebut.

Setelah Rakai Warak meninggal kemudian digantikan oleh Rakai Garung. Pada masa pemerintahan Rakai garung pembangunan kompleks candi dilanjutkan di Jawa Tengah bagian utara terutama di sekitar pegunungan Dieng. Hal itu dapat dibuktikan dengan adanya kompleks bangunan candi Hindu di dataran tinggi Dieng, seperti candi Semar, candi Srikandi, candi Punta dewa, candi Arjuna dan candi Sembadra. Selain itu di bangun pula kompleks candi Gedong Sanga yang terletak di sebelah kota Semarang sekarang.

Setelah Rakai Garung meninggal ia digantikan oleh Rakai Pikatan. Pemakaian gelar Sri Maharaja di Kerajaan Medang tetap dilestarikan oleh Rakai Pikatan meskipun Wangsa Sanjaya berkuasa kembali. Hal ini dapat dilihat dalam daftar raja-raja versi Prasasti Mantyasih yang menyebutkan hanya Sanjaya yang bergelar Sang Ratu. Berkat kecakapan dan keuletan Rakai Pikatan, semangat kebudayaan Hindu dapat dihidupkan kembali. Kekuasaannya pun bertambah luas meliputi seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur serta ia pun memulai pembangunan candi Hindu yang lebih besar dan indah yaitu candi Prambanan (Candi Rara Jonggrang) di desa Prambanan.

Setelah Raja Pikatan wafat ia digantikan oleh Rakai Kayuwangi. Pada masa pemerintahan Rakai Kayuwangi kerajaan banyak menghadapi masalah dan berbagai persoalan yang rumit sehingga timbullah benih perpecahan di antara keluarga kerajaan. Selain itu zaman keemasan Mataram Kuno mulai memudar serta banyak terjadi perang saudara.

Saat Rakai Kayuwangi meninggal ia digantikan oleh Rakai Watuhumalang. Rakai Watuhumalang berhasil melanjutkan pembangunan Candi Prambanan. Kemudian setelah Rakai Watuhumalang meninggal ia digatikan oleh Rakai Watukura Dyah Balitung. Pada masa pemerintahan Rakai Dyah Balitung dikenal 3 jabatan penting, yaitu rakryan i hino (pejabat tinggi sesudah raja), rarkyan i halu dan rarkyan i sirikan. Ketiganya merupakan tritunggal. Dyah Balitung memerintah sampai tahun 910 M dan meninggalkan banyak prasasti (20 buah). Ada prasasti yang menyebutkan bahwa Raja Balitung pernah menyerang Bantan (Bali). Setelah Rakai Watukura Dyah Balitung wafat ia digantikan oleh Daksa dengan gelar Sri Maharaja Sri Daksottama Bahubajra Pratipaksaksaya. Sebelumnya ia menjabat sebagai rakryan i hino. Ia memerintah dari tahun 913-919 M. Pada masa pemerintahan Raja Daksa inilah pembangunan Candi Prambanan berhasil diselesaikan. Pada tahun 919 M, Daksa digantikan oleh Tulodhong yang bergelar Sri Maharaja Rakai Layang Dyah Tulodhong Sri Sajanasanmattanuragatunggadewa. Masa pemerintahan Tulodhong sangat singkat dan tidak terjadi hal-hal yang menonjol.

Pengganti Tulodhong adalah Wawa. Ia naik tahta pada tahun 924 M dengan gelar Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wajayalokanamottungga. Sri Baginda dibantu oleh Empu Sindok Sri Isanawikrama yang berkedudukan sebagai Mahamantri i hino.

Sebenarnya pemerintahan saat itu susunannya hampir sama dengan sistem pemerintahan sekarang ini, seperti ;

§  Sri Maharaja

§  Rakryan Mahamantri i Hino /  Rakyan Mahapati Hino

§  Rakryan Kanuruhan

§  Mahamatri i Hino

§  Mahamatri i Halu

§  Mahamatri i Sirikan

Jabatan tertinggi sesudah raja ialah Rakryan Mahamantri i Hino atau kadang ditulis Rakryan Mapatih Hino. Jabatan ini dipegang oleh putra atau saudara raja yang memiliki peluang untuk naik takhta selanjutnya. Misalnya, Mpu Sindok merupakan Mapatih Hino pada masa pemerintahan Dyah Wawa.

Jabatan Rakryan Mapatih Hino pada zaman ini berbeda dengan Rakryan Mapatih pada zaman Majapahit. Patih zaman Majapahit setara dengan perdana menteri namun tidak berhak untuk naik takhta.

Jabatan sesudah Mahamantri i Hino secara berturut-turut adalah Mahamantri i Halu dan Mahamantri i Sirikan. Pada zaman Majapahit jabatan-jabatan ini masih ada namun hanya sekadar gelar kehormatan saja. Pada zaman Wangsa Isana berkuasa masih ditambah lagi dengan jabatan Mahamantri Wka dan Mahamantri Bawang.

Jabatan tertinggi di Medang selanjutnya ialah Rakryan Kanuruhan sebagai pelaksana perintah raja. Mungkin semacam perdana menteri pada zaman sekarang atau setara dengan Rakryan Mapatih pada zaman Majapahit. Jabatan Rakryan Kanuruhan pada zaman Majapahit memang masih ada, namun kiranya setara dengan menteri dalam negeri pada zaman sekarang.

Pemerintahan dikendalikan secara tepusat dan semua berada di bawah raja sebagai pemimpin tertingginya untuk selainnya masih dalam pendalaman. Mataram kuno sejak abad ke-9 sudah menggunakan mata uang berupa emas dan perak untuk melakukan kegiatan perdagangan. Dimana uang pada masa itu disebut tahil jawa. Dari sistem pemerintahan tersebut terdapat beberapa raja yang telah memerintah dibawah ini  terdapat raja yang bergelar ratu dan Sri Maharaja yang memerintah mataram kuno

1.                  Sanjaya, pendiri Kerajaan Medang memerintah dari 723 M

2.                  Rakai Panangkaran, awal berkuasanya Wangsa Syailendra 770 M

3.                  Rakai Panunggalan alias Dharanindra

4.                  Rakai Warak alias Samaragrawira

5.                  Rakai Garung alias Samaratungga

6.                  Rakai Pikatan suami Pramodawardhani, awal kebangkitan Wangsa Sanjaya 840 M

7.                  Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala berkuasa mulai dari 856 M – 880 M

8.                  Rakai Watuhumalang

9.                  Rakai Watukura Dyah Balitung

10.              Mpu Daksa

11.              Rakai Layang Dyah Tulodong

12.              Rakai Sumba Dyah Wawa 
SUMBER         :

  1. http://prabumataram.blogspot.co.id/2012/03/mataram-kono-sistem-pemerintahan.html
  2. https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Medang
  3. http://aunimuhammad.blogspot.co.id/2015/05/tugassejarah-sejarahkerajaan-mataram.html 
 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Anggota :
1.     Aida Nur A                            (02)
2.     Anisah Ulfah F                      (07)
3.     Azriel Erwin B                      (08)
4.     Latifah Puji R                        (19)
5.     Muhammad Rizal R              (21)

Seputar Keruntuhan Kerajaan Mataram Hindu Kuno

Banyak para peneliti dan penulis tentang kerajaan-kerajaan Indonesia percaya bahwa kerajaan hindu mataram kuno hancur atau hilang dari peradaban kerajaan-kerajaan hindu di Indonesia. Kehancuran tersebut banyak diyakini akibat letusan dahsyat Gunung Merapi pada tahun 1006 Masehi yang bersifat eksplosif (Ledakan besar/Plinian) sehingga mampu menghancurkan kerajaan Mataram Hindu Kuno. letusan tersebut juga mampu melongsorkan tubuh Merapi sehingga sebagian tubuh Merapi tersebut lengser dan membentuk perbukitan Gendol/gunung Gendol atau Bukit Wukir. Sehingga mengubur candi-candi yang ada disekitar Merapi. Hal ini dikemukakan oleh seorang Geologiwan ternama R. W. Van Bemmelen (1949). Peristiwa tersebut diinterpretasikan sebagai Mahapralaya atau Pralaya yang berarti ’Kehancuran Besar’ oleh Van Laberton Hinloopen dalam menaksir pembacaan pada prasasti Rukam dan kitab Negara Kertagama. Pendapat R. W. Van Bemmellen (1904-1983) mendasarkan pendapatnya pada interpretasi Van Labertoon Hinloopen. Keadaan ini disebut oleh Van Libertoon Hinloopen sebagai masa ”Wara-Wiri”, ”Die Götterdamerung” atau ”The Twilight Of The Gods” sebelum muncul kerajaan Mataram Islam modern.
Dalam beberapa perdebatan terakhir mengenai sejarah keruntuhan kerajaan Mataram Hindu Kuno, dimana beberapa teori yang mendasari akan kebenaran dan relevansi seputar keruntuhan kerajaan mataram hindu kuno, kini telah dapat dilakukan analisa mendalam. Mengenai kebenaran dan dasar yang digunakan dalam teori keruntuhan kerajaan Mataram Hindu Kuno tersebut. Penelitian yang dilakukan seputar pembahasan Arkeologi, Geologi (ilmu bumi pengaruh terhadap tenaga dalam bumi), Statigrafi (ilmu perlapisan endapan), Sedimentologi (ilmu bahan endapan) dan sebagainya.
Hasil penelitian tersebut menunujukkan teori tentang keruntuhan kerajaan Mataram Hindu Kuno telah jauh dari kebenarannya. Bahwasanya, merapi tidak pernah meletus secara eksplosif melainkan gunung Merapi mempunyai tipe sendiri yang unik dan tidak pernah berubah hal ini dikarenakan kondisi fisik gunung Merapi tersebut. Ciri letusan tersebut hingga kini masih seperti yang dulu. Ciri letusannya adalah letusan terarah dan guguran awan panas.
Tipe letusan Gunung Merapi merupakan tipe letusan yang unik, dimana Gunung Merapi mempunyai ciri dan tipe letusan yang berbeda dari gunung api lainnya. Tipe Plinian atau tipe eksplosive (letusan pyroksimal) sebagai mana disebutkan oleh Van Bemmelen (1949) tidak terjadi pada Gunung Merapi. Hal ini disebabkan viskositas atau tingkat kekentalan lava Gunung Merapi yang tidak kental atau bersifat cair, sehingga apabila terjadi letusan tidak akan mengakibatkan peledakan yang dahsyat, melainkan yang biasa terjadi di Gunung Merapi adalah lelehan lava dengan ditandai gumpalan asap raksasa (Wedus Gembel) dengan batuan pijar yang meluncur ke bawah lereng. Hal ini didukung oleh morfologi Gunung Merapi yang terus tumbuh pada kubah lavanya.
Dari hasil studi Statigrafi, didapat keterangan yang menunjuk beberapa candi yang tersingkap disisi selatan terkubur material gunung api pada abad ke – 6 (1440 tahun yang lalu), abad ke 8 – 9 (1175 tahun yang lalu) dan abad ke 10 (1070 – 1060 tahun yang lalu), serta kebanyakan candi terkubur oleh material gunung api pada abad ke 13 (740 – 640 tahun yang lalu). Sedangkan sejarah letusan terdekat Pralaya 1006 Masehi adalah material yang ditemukan berumur 940 – 990 Masehi (1070 – 1060 tahun yang lalu), di sisi selatan dan pada abad ke 11-12 (980 tahun yang lalu) disisi barat laut.
Candi Wukir yang ditemukan di atas Bukit Wukir atau Gunung Gendol di kabupaten Magelang, Jawa Tengah, memberikan fakta tentang Letusan Gunung Merapi tahun 1006 Masehi. Pada candi ini ditemukan prasasti Canggal yang diperkirakan didirikan pada tahun 732 Masehi. Prasasti Canggal ditulis dalam bahasa Sansekerta berhuruf Pallawa yang isinya menyebutkan tentang pendirian sebuah Lingga yang kaya akan padi dan emas. Gunung Gendol pada awalnya diyakini terbentuk oleh longsoran material vulkanik Gunung Merapi, sebagai akibat letusan kuat tahun 1006 Masehi. Dengan ditemukannya Prasasti canggal di atas Gunung Gendol yang tertanggal 732 Masehi ini, menunjukkan bahwa Gunung Gendol telah terbentuk sebelum letusan tersebut.
Mengenai ”Pralaya” atau ”Mahapralaya” yang artinya ”Kehancuran” atau ”kehancuran besar” perlu dilakukan kajian tafsiran pada informasi yang sejaman (Edi Sedyowati, 2006). Istilah itu sendiri disebutkan dalam prasasti Pucangan (batu Calcuta) pada sisinya yang berbahasa Jawa kuno, disebut bahwa Pralaya disebabkan oleh : ”Serangan raja wurawari yang menyerang muncul dari Lwaram” dari kutipan yang berbunyi :
”…..Kalaning Pralaya ring yawadwipa i rikang 939 ri Pralaya haji wurawari masõ mijil sangke lwaram, ekarnawa rupanikang sayadwipa rikang kala, akweh sira wwang mahãwiśeŝa pjah…”
Angka tahun 939 sebagaimana disebut dalam kutipan prasasti tersebut padanan tahunnya adalah 1017 Masehi. Peristiwa serangan haji wura wari dari Lwaram tersebut terjadi pada tahun 939 çaka / 1017 Masehi bukan yag selama ini banyak didskusikan terkait kejadian pada 1006 Masehi atau 1016 Masehi.
Berdasarkan analisis, Litologi Gunung Gendol dimasukkan ke dalam kompleks Pegunungan Menoreh dan bukan Gunung Merapi. Kajian data Statigrafis menunjukkan material gunung yang volumenya sangat besar, sebagai akibat pelongsoran Gunung Merapi sampai kini tidak dijumpai aktivitasnya selama ini.
Penemuan pendapat baru (Discovery) tentang perpindahan kerajaan Mataram Jawa tengah ke Jawa Timur merupakan hal yang penting dilakukan. Sebab, pendapat tersebut akan terus digunakan selama turun temurun. Bantahan kajian yang dilakukan baru sampai pada proses ekskavasi candi dan penelitian tentang vulkanologi Gunung Merapi.